Buat kamu yang sedang membangun startup dari nol, ada satu hal yang cepat atau lambat akan kamu pikirkan: dana. Entah untuk membayar tim, membuat produk minimum, atau sekadar bertahan selama validasi ide. Nah, di tahap paling awal inilah istilah pre-seed funding mulai terdengar.
Tapi, banyak founder yang belum benar-benar memahami: apa itu pre-seed funding, dari mana datangnya, dan apa saja yang perlu disiapkan sebelum mulai “mengemis” ke investor (yes, kadang terasa seperti itu).
Apa Itu Pre-Seed Funding?
Pre-seed funding adalah pendanaan tahap paling awal dalam siklus pertumbuhan startup. Biasanya terjadi saat:
-
Startup masih berupa ide atau prototype
-
Produk belum diluncurkan ke pasar luas
-
Founder masih membangun tim awal
-
Revenue belum stabil (atau bahkan belum ada)
Tujuan dari pre-seed adalah untuk membiayai validasi ide, membangun MVP (Minimum Viable Product), dan memulai riset pasar.
Besaran dana pre-seed umumnya berkisar antara USD 10.000–500.000 tergantung industri dan kebutuhan. Di Indonesia, angka ini bisa bervariasi, tapi nominal Rp100–500 juta termasuk cukup umum.
Siapa yang Biasanya Memberikan Pre-Seed Funding?
-
Angel Investor
Individu dengan kekayaan pribadi yang tertarik mendukung startup tahap awal. Biasanya mereka juga memberikan mentorship dan koneksi. -
Friends and Family
Orang terdekat founder yang percaya pada ide dan visi startup tersebut. -
Incubator & Accelerator
Program seperti IDX Incubator, GK Plug & Play, atau Indigo dari Telkom sering memberikan modal awal, mentorship, dan akses jejaring. -
Bootstrapping (Dana Pribadi)
Banyak juga founder yang menggunakan tabungan pribadi untuk membiayai tahap awal startup-nya.
Baca Juga: Strategi Bangun Bisnis Sambil Kerja Full Time, Realistiskah?
Apa yang Harus Disiapkan Sebelum Mencari Pre-Seed Funding?
Nah, masuk ke bagian paling penting: persiapan. Banyak founder terlalu buru-buru cari investor, padahal belum punya fondasi yang solid. Berikut adalah hal-hal krusial yang wajib kamu siapkan:
1. Masalah yang Ingin Kamu Selesaikan Harus Jelas
Investor ingin tahu: apa masalah besar yang kamu coba pecahkan? Masalah ini harus:
-
Spesifik
-
Relevan
-
Dialami banyak orang
-
Punya urgensi tinggi
Contoh: “Banyak UMKM di Indonesia kesulitan akses pembiayaan karena tidak punya data finansial yang rapi.”
2. Solusi yang Kamu Tawarkan Harus Jelas dan Logis
Kamu belum perlu punya produk jadi. Tapi kamu harus bisa menjelaskan bagaimana solusi kamu bisa menjawab masalah itu secara efisien, berbeda, dan berkelanjutan.
Bisa dalam bentuk wireframe, prototype, demo pitch, atau storytelling yang kuat.
3. Market Size dan Potensinya
Investor ingin tahu: seberapa besar pasar yang bisa kamu bidik? Ini bisa kamu jawab dengan:
-
TAM (Total Addressable Market)
-
SAM (Serviceable Available Market)
-
SOM (Serviceable Obtainable Market)
Tunjukkan bahwa kamu paham industrinya dan punya peluang untuk tumbuh.
4. Tim yang Solid
Jujur aja, di tahap pre-seed, investor lebih percaya pada orangnya daripada idenya. Jadi, pastikan kamu punya tim kecil yang saling melengkapi:
-
Satu orang fokus teknikal
-
Satu orang fokus produk/pasar
-
Satu orang urus operasional/bisnis
Kalau masih solo founder? Tunjukkan roadmap kamu untuk membentuk tim ke depannya.
5. Traction Kecil yang Valid
Meski belum punya omzet besar, tapi kamu perlu bukti bahwa idemu layak. Misalnya:
-
Sudah ada 100 orang yang daftar ke waiting list
-
Sudah menguji prototype ke 20 pengguna dan mereka puas
-
Ada MoU awal dengan partner atau vendor
Traction = validasi. Ini sangat membantu saat pitching.
6. Pitch Deck yang Meyakinkan
Buatlah pitch deck dengan struktur yang jelas dan tidak bertele-tele. Umumnya mencakup:
-
Problem
-
Solusi
-
Market Size
-
Business Model
-
Traction
-
Tim
-
Competitor & Differentiator
-
Financial Projections
-
Ask (berapa dana yang kamu butuhkan dan untuk apa)
Gunakan desain yang profesional, dan ceritakan ide kamu, bukan sekadar mempresentasikan data.
7. Cap Table yang Rapi
Cap table = siapa punya saham berapa persen. Pre-seed investor akan mengecek ini untuk memastikan bahwa:
-
Founder masih punya kontrol
-
Gak ada konflik antar pemegang saham
-
Kamu terbuka untuk dilusi saham ke depannya
8. Persiapkan Mental
Faktanya: kamu mungkin akan ditolak berkali-kali. Dan itu wajar. Pre-seed funding bukan soal siapa paling pintar, tapi siapa yang paling kuat bertahan dan mau belajar dari feedback.
Baca Juga: Alasan UMKM Gagal untuk Scale Up
Tips Tambahan Biar Pitching Kamu Lebih Meyakinkan
-
Jangan jual mimpi, jual traksi dan data
-
Fokus pada value, bukan fitur
-
Bangun relasi dengan investor sejak jauh hari, bukan hanya saat butuh uang
-
Minta feedback meski kamu gak dapat deal
-
Tunjukkan kamu punya rencana jangka panjang
Pre-seed funding adalah langkah penting buat kamu yang ingin membangun startup dari ide menjadi produk nyata. Tapi ingat, pendanaan hanyalah bahan bakar, bukan mesin utama.
Tanpa persiapan yang matang, pre-seed bisa jadi hanya pemborosan waktu dan energi. Tapi dengan strategi dan mentalitas yang benar, ini bisa jadi awal dari lompatan besar dalam perjalanan startup-mu.
Jadi, sebelum mulai pitching ke sana-sini, pastikan kamu sudah menjawab pertanyaan paling penting:
Apakah idemu layak diperjuangkan—dan layak didanai?