False Belief Customer yang Perlu Diketahui untuk Meningkatkan Penjualan

0
36 views
False Belief

False belief customer yang perlu diketahui – Ketika Anda sedang melakukan penjualan, penolakan demi penolakan pasti Anda rasakan. Yap, itu wajar karena itulah risiko berjualan.

“Kalau gitu apa artinya saya tidak cocok berjualan ya?”

Et, terlalu cepat bila Anda menyimpulkan seperti itu. Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, penolakan adalah risiko yang pasti dalam penjualan.

Bila Anda tidak ingin terjadi penolakan ya jangan berjualan. Coach Denny Santoso pernah menyampaikan bahwa bila Anda ingin menjadi seorang pebisnis maka kuncinya ya jangan baper.

Sekali Anda baper maka Anda tidak akan pernah bisa sukses dalam bisnis. Nah, ketika terjadi penolakan pada produk yang Anda tawarkan artinya ada false belief di benak customer Anda.

Ya kalau mereka belief pastinya mereka akan membeli produk Anda. Rumus gampangnya belief = beli. Jadi kalau orang udah belief maka ia pasti akan beli.

Nah, pertanyaannya bagaimana cara menemukan false belief? Ya dengan bertanya.

Kapan bertanyanya? Ya ketika terjadi penolakan.

Jadi, ketika Anda menawarkan produk lalu ditolak jangan buru-buru cabut dengan mengatakan, “oh yaudah deh kalau gak mau”.

Jangan, itu kesempatan Anda untuk bertanya kepada mereka alasan kenapa mereka menolak produk Anda.

Jawaban mereka harus Anda catat dengan detail. Karena itulah false belief mereka. Ada 3 false belief yang perlu Anda ketahui.

sumber: Youtube

Baca Juga: Perbedaan Marketing Branding Selling yang Perlu Anda Ketahui

Vehicle False Belief

Ini adalah contoh false belief yang mengacu kepada produk yang Anda jual. Ya gampangnya mereka tidak percaya pada produk Anda.

Hal tersebut bisa terjadi salah satunya karena adanya pengalaman buruk yang mereka alami terhadap produk yang sama dengan brand yang berbeda.

Misal, “Saya sudah minum 5 brand suplemen pembakar lemak tapi tetap saja tidak ada perubahan”. Nah pengalaman tersebut membuat ia tidak percaya terhadap produk Anda.

Tugas Anda adalah mencatat apa yang ia katakan. Jangan buru-buru menjawab bila Anda belum siap dengan “amunisinya.”

Baca Juga: 3 Steps Profit Framework

False Belief
sumber: PositivePsychology.com

Internal False Belief

Kalau yang ini berkaitan dengan diri sendiri. Intinya ia memiliki masalah terhadap dirinya sendiri yang membuatnya tidak yakin akan bisa terbantu dengan produk Anda.

Misal, ketika Anda sedang menjual produk pembakar lemak kepada seseorang nah orang itu lantas mengatakan, “wah saya pengen sih kurus tapi saya tuh orangnya nafsu makannya tinggi, saya gak yakin apa nanti produk ini berfungsi dengan kondisi saya yang seperti ini?”

Atau bisa juga, “wah saya tuh juga pengen badannya sixpack tapi saya tidak punya waktu untuk berolahraga apa bisa minuman ini membantu saya untuk sixpack dengan kesibukan saya ini?”.

Ada juga kasus yang paling umum terjadi khususnya ketika ditawarkan produk berupa pendampingan/mentoring/kursus online tentang digital marketing.

“wah saya percaya sih dengan produknya, banyak juga orang yang sukses dari pelatihan ini tapi saya gaptek gimana dong? Saya takut tidak bisa mengikutinya”.

Internal false belief ini memang tidak bisa Anda kondisikan dengan mudah. Anda perlu catat dulu biar nanti Anda bisa rumuskan penawaran yang tepat untuk market yang memiliki masalah tersebut.

Baca Juga: Decoy Effect (Strategi Psikologi Marketing untuk Meningkatkan Omset)

False Belief
sumber: Business Solutions

External False Belief

Jenis yang terakhir adalah external false belief. Yaitu ketika seseorang sudah percaya pada produk serta dirinya tetapi ia memiliki masalah dengan hal-hal eksternal.

Seperti, ketika Coach Denny Santoso menawarkan sebuah produk berupa list building mastery atau DM Elite lalu ada calon customer yang mengatakan,

“Saya percaya sih dengan produk dari Coach Denny dan saya yakin dengan background saya yang lulusan S1 apalagi S1 Ekonomi pasti saya paham menjalankannya. Tapi saya tidak punya produk”.

Nah, jadi ia memiliki masalah dengan kondisi eksternal. Vehicle dan internalnya sudah aman. Bagian eksternalnya aja yang belum aman.

Jadi? Yap lagi-lagi catat dulu aja masalah yang ia ceritakan tersebut.

Penutup

Oke, sampai sini paham ya tentang false belief? Yap intinya Anda ketika terjadi penolakan artinya masih ada kepercayaan yang salah di benak customer Anda.

Anda perlu cari tahu secara dalam kenapa mereka menolak. Tanyakan terus dengan menggunakan kata tanya, “kenapa?”. Jangan menggunakan asumsi.

Misal, ketika Anda tanya kenapa lalu ia menjawab,”pikir-pikir dulu deh”. Anda jangan langsung menanggapi dengan mengatakan, “oh yaudah deh, nanti kalau tertarik bilang ya”. Stop, jangan lakukan itu.

Karena Anda tidak pernah tahu apa yang ia pikirkan. Gali terus sampai ia menyampaikan yang sebenarnya kenapa ia menolak produk Anda.

Ketika Anda telah bisa merumuskan apa saja false belief customer Anda maka Anda bisa lebih mudah untuk merumuskan penawaran yang tepat kepada customer Anda.

Sehingga mereka menjadi belief dan akhirnya beli.

Jika Anda tertarik dengan konten bisnis seperti ini, Anda bisa juga melihat tulisan lainnya di Topik Bisnis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here