Evangelism Marketing dari Kasus Bear Brand yang Viral Anti Covid-19

0
56 views
evangelism marketing dari kasus bear brand
sumber: Detik Food

Evangelism Marketing dari Bear Brand – Seminggu belakangan ini semenjak tulisan ini dimuat, ada kejadian yang cukup menghebohkan publik nusantara yaitu ramai-ramai orang memborong susu steril bermerk bear brand.

Mungkin kamu juga penasaran, kok bisa ya? Apa karena Bear Brand adalah susu terbaik? Apa karena lagi diskon? atau karena apa?

Nyatanya karena ada “omongan” bahwa Bear Brand adalah produk susu steril yang bergizi dan berkhasiat untuk menangkal covid-19.

Bear Brand diisukan mampu meningkatkan imun yang akhirnya bisa membuat diri kita terhindar dari covid-19.

Faktanya apakah demikian? Ternyata tidak. Para dokter dan ahli gizi mengungkapkan bahwa susu Bear Brand sebenarnya sama saja seperti susu lainnya.

Ketua Satgas COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia, Zubairi Djoerban menyebutkan, “Susu beruang tak bisa mematikan virus Sars Cov-2 penyebab Covid-19”.

Dokter Tan Shot selaku ahli gizi masyarakat juga menambahkan bahwa kandungan gizi susu beruang sama saja dengan susu lainnya seperti susu evaporasi, susu UHT, dan susu cair.

Nah, kembali mengulik tentang Bear Brand yang viral. Lantas apa alasan Bear Brand menjadi rebutan? Alasannya karena ada evangalism marketing.

Pernah mendengar? Bila belum yuk simak artikel ini sampai habis.

Baca Juga: Inbound Marketing vs Outbound Marketing Apa Perbedaannya?

Evangelism Marketing dari kasus Bear Brand
sumber: unsplash (Nick Vewings)

Evangelism Marketing

Mungkin kalau istilah digital marketing sudah sering didengar lalu bagaimana dengan evangelism marketing?

Evangelism marketing bahasa gampangnya adalah pemasaran dari mulut ke mulut alias word of mouth.

Teknik pemasaran ini mengandalkan pelanggan sebagai “agen” pembawa pesan kebaikan atas sebuah produk.

Pesan itu disampaikan kepada pelanggan potensial lainnya.

Ini sama halnya ketika kamu telah mengunjungi sebuah coffee shop dan kamu mengabarkan bahwa suasana di sana nyaman dan cozy melalui IG story atau media sosial lainnya maka ini akan “memancing” pelanggan lainnya yang suka nongkrong dan ngopi.

Alhasil semakin banyak orang berbondong-bondong ke tempat tersebut. Ramailah tempat tersebut bahkan orang yang datang seringkali tidak dapat tempat.

Kasus ini pernah terjadi di Kopi Nako daerah Depok yang memang suasana disana sangat cozy dan nyaman untuk nongkrong.

Para pihak yang menyampaikan pesan ini disebut customer evangelist.

Nah, kembali ke kasus Bear Brand. Produk susu steril ini memang sudah memiliki pelanggan loyal. Mereka mempersepsikan Bear Brand sebagai susu yang paling sehat.

Sebelum ada pandemi, persepsi atas produk susu ini memang sebagai susu sehat. Terlebih bungkusnya yang menggunakan kaleng yang dianggap lebih steril.

Adanya pandemi ini khususnya di masa PPKM Darura, “pesan” atas persepsi tersebut akhirnya tersampaikan oleh banyak orang.

Akibat adanya dorongan fear of death maka tanpa berpikir panjang banyak orang akhirnya memutuskan untuk membeli produk tersebut.

Jadi bukan karena susu tersebut lebih sehat tetapi memang “pesan” viral atas persepsi dari brand tersebut.

Baca Juga: Apa itu Covert Selling Beserta Contohnya

Evangelism Marketing dari Kasus Bear Brand
sumber: unsplash (productschool)

Mengapa Menggunakan Evangelism Marketing?

Tahukah kamu bahwa teknik marketing ini sangat digemari oleh para pebisnis/marketer. Mengapa demikian? Karena dengan teknik ini, cost yang harus dikeluarkan perusahaan sangatlah sedikit.

Coba sandingkan dengan teknik marketing lain seperti, ads yang pasti mengeluarkan budget iklan, ataupun organik yang harus mengeluarkan budget untuk gaji pengelolanya.

Sedangkan evangelism marketing, si pebisnis tidak perlu mengeluarkan biaya untuk memasarkan produknya.

Mereka para pelanggan setia dengan senang hati menyampaikan “pesan” persepsi dari produk tersebut tanpa dibayar sama sekali.

Akhirnya produk itu viral, pembelian meningkat, dan biaya? Aman bahkan tidak keluar sama sekali alias zero cost.

Enak kan?

Tetapi PRnya memang, kamu harus membuat produk yang berkualitas dan membangun persepsi yang bagus kepada pelangganmu sehingga mereka akan loyal untuk menyampaikan persepsi atas produkmu ke pelanggan potensial lainnya.

Baca Juga: Decoy Effect (Strategi Psikologi Marketing untuk Meningkatkan Penjualan)

Penutup

Nah, sekarang kamu sudah paham kan kenapa Bear Brand bisa menjadi viral? Yap itulah salah satu teknik Evangelism Marketing.

Hikmah yang bisa kita ambil dari kasus Bear Brand ini adalah buatlah produk yang berkualitas dan bangun persepsi yang bagus atas produkmu terhadap pelangganmu.

Dengan begitu mereka akan loyal untuk menyampaikan “pesan” persepsi produkmu terhadap pelangggn potensial lainnya.

Jika Kamu tertarik dengan konten marketing seperti ini, Kamu bisa juga melihat tulisan lainnya di Topik Marketing.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here